Tabu Tapi Penting, Edukasi Kesehatan Seksual "Bacarita Kespro"
Kekerasan seksual terhadap anak dan remaja bukanlah hal baru di Indonesia, tetapi kini menjadi perhatian utama karena semakin banyak korban yang berani bersuara. Data Komnas Perempuan menunjukkan bahwa pada tahun 2024, terdapat 445.502 kasus kekerasan terhadap perempuan naik hampir 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat lebih dari 11 ribu kasus kekerasan terhadap anak hanya dalam kurun waktu Januari-Juni 2025, dengan korban mayoritas adalah anak perempuan. Angka-angka ini mencerminkan betapa serius dan mendesaknya isu ini untuk ditangani secara komprehensif dan berkelanjutan.
Namun, di tengah kenyataan pahit tersebut, masih banyak wilayah di Indonesia terutama daerah timur seperti NTT yang belum memiliki akses cukup terhadap edukasi kesehatan seksual dan perlindungan anak. Budaya yang menganggap tabu pembicaraan seputar seksualitas membuat banyak korban merasa takut, malu, dan terisolasi. Di sinilah peran penting komunitas seperti Tenggara Youth Community menjadi terang. Dengan pendekatan yang hangat, inklusif, dan penuh empati, Tata dan komunitasnya tidak hanya mengedukasi, tetapi juga membangun keberanian anak-anak untuk melindungi diri dan menyuarakan apa yang selama ini terpendam.
“Aku tidak pernah dikenalkan dengan tubuhku sendiri, itu membuat aku rentan jadi korban kekerasan seksual,” ucap Tata. Dari pengalaman itulah, ia dan teman-temannya di Nusa Tenggara Timur (NTT) memutuskan untuk mendirikan Tenggara Youth Community, sebuah komunitas remaja independen dibuat pada 30 Agustus 2016 yang bertujuan memberikan edukasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi kepada remaja.
Dari luka yang menyakitkan, Tata justru menemukan kekuatan untuk menyembuhkan orang lain sebuah penderitaan yang melahirkan ruang aman.
Melalui program “Bacarita Kespro”, komunitas ini mencoba menghapus rasa tabu dengan cara yang lebih akrab dan ramah terhadap anak dan remaja. Program ini mengajak para remaja untuk bercerita, berbagi pengalaman, serta mendapatkan informasi yang benar dari sesama remaja. Menurut Tata, pendekatan yang bersifat partisipatif ini sangat penting karena banyak remaja yang justru enggan bicara bila merasa dihakimi. “Kami ingin menciptakan ruang aman di mana anak-anak bisa bercerita tanpa rasa takut dimarahi atau dianggap ‘nakal’,” jelasnya. Selain menjadi tempat berbagi, komunitas ini juga sering mengadakan sesi edukasi seputar pubertas, consent (persetujuan), hingga cara menghadapi situasi kekerasan seksual.
Minimnya komunikasi terbuka antara anak dan orangtua tentang seksualitas juga menjadi salah satu alasan kuat dibentuknya komunitas ini. Sebagian besar remaja di NTT dan di banyak daerah lain di Indonesia sering hanya menerima larangan tanpa penjelasan yang masuk akal. Kalimat seperti “Kalau sudah menstruasi, jangan pacaran nanti bisa hamil” seringkali lebih menakut-nakuti daripada memberikan pemahaman. Akibatnya, remaja mencari tahu sendiri dari sumber yang belum tentu valid, atau malah menutup diri sepenuhnya. Di sinilah pentingnya edukasi seksual yang tidak hanya berbasis biologis, tapi juga sosial dan emosional. Tenggara Youth Community mencoba menjembatani kebutuhan ini dengan harapan bahwa suatu saat nanti, membicarakan tubuh dan kesehatan reproduksi tak lagi dianggap tabu, melainkan sebagai bagian dari proses tumbuh dan belajar sebagai manusia.
Tak hanya peduli, Tata dan beberapa anggota Tenggara Youth Community ternyata juga pernah mengalami sendiri pahitnya kekerasan seksual dan kekerasan dalam pacaran. Pengalaman pribadi yang tak mudah itulah yang justru menjadi titik balik bagi mereka. Berangkat dari keresahan yang sama, Tata dan teman-temannya pun membulatkan tekad, mereka ingin menjadi bagian dari perubahan. “Aku nggak mau adik-adikku atau teman-teman remaja lainnya harus mengalami hal yang sama seperti aku,” ujar Tata.
Ia tidak ingin pendekatan yang digunakan hanya sekadar menyampaikan materi melalui presentasi <i>PowerPoint</i> dan sesi tanya jawab seperti di sekolah-sekolah. Menurutnya, cara seperti itu kurang efektif untuk menyentuh sisi emosional remaja dan sering kali gagal membangun ruang aman bagi mereka untuk terbuka. Sebagai gantinya, Tenggara Youth Community memilih pendekatan yang lebih interaktif dan berbasis pengalaman, agar edukasi terasa dekat dan relevan dengan realitas anak muda.
Pengalaman pribadi Tata sebagai penyintas kekerasan seksual menjadi alasan kuat di balik semangatnya membangun komunitas ini. Ia mengaku bahwa proses <i>healing</i> yang ia jalani tidaklah mudah dan masih berlangsung hingga kini, bahkan dengan pendampingan psikolog. Dari pengalamannya itulah, Tata memahami bahwa korban kekerasan seksual sering kali hanya ingin didengar tanpa dihakimi. “Kadang-kadang korban cuma butuh didengar dulu, minimal ada orang yang mau dengar mereka dan tidak kasih <i>judge</i> atau <i>bully</i> mereka," ucapnya. Prinsip inilah yang menjadi fondasi dalam pendekatan komunitasnya mendengarkan dan mengikuti keinginan korban, termasuk ketika mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan kasus secara hukum. Bagi Tata dan timnya, hal terpenting adalah menjaga kenyamanan dan pemulihan korban.
Selain menjadi ruang edukasi, Tenggara Youth Community juga menjadi tempat aman bagi para penyintas muda untuk saling menguatkan. Banyak di antara anggotanya yang memiliki pengalaman serupa, sehingga mereka merasa lebih mudah untuk saling bercerita dan memahami satu sama lain. Komunitas ini tidak hanya menawarkan dukungan emosional, tetapi juga membantu korban mengakses bantuan psikologis dan hukum. Dalam lingkungan yang saling memahami dan mendukung ini, remaja tidak hanya belajar soal kesehatan seksual, tetapi juga belajar membangun keberanian, solidaritas, dan penyembuhan bersama.
Sayangnya, perjuangan ini tak selalu mulus. Banyak orang tua yang menolak, bahkan mencemooh inisiatif tersebut. Mereka menganggap isu ini terlalu vulgar dan tak layak untuk dibahas di usia remaja, padahal justru di usia inilah informasi yang tepat sangat dibutuhkan. Tata, mengaku sering mendapatkan pertanyaan sinis seperti, “Kenapa harus remaja yang menyuarakan isu ini?” Sambil tertawa kecil, ia menjelaskan bahwa justru karena remaja yang paling terdampak oleh minimnya edukasi inilah mereka perlu bersuara. Ia menyadari bahwa banyak orang tua masih terjebak dalam cara pandang yang konservatif dan patriarkis. "Kami tidak menyalahkan mereka. Ini tentang membangun pemahaman baru. Tapi kalau kita diam, korban kekerasan akan terus bertambah karena tidak tahu harus berbuat apa," ungkap Tata. Bagi para aktivis muda ini, bersuara bukan hanya pilihan, melainkan kebutuhan untuk bertahan dan melindungi diri sendiri serta sesama.
Penolakan memang tak bisa dihindari. Tata bahkan pernah mendapat kritik langsung dari seorang ibu saat memberikan presentasi di sekolah. Sang ibu mempertanyakan mengapa hal-hal ‘tidak pantas’ seperti ini harus diajarkan. Namun Tata tetap tenang dan menegaskan bahwa ini bukan tentang mendorong seks bebas, melainkan tentang perlindungan dan pengetahuan. Bahkan kelompok gereja pun sempat menolak program ini karena kekhawatiran serupa. Meski begitu, semangat remaja-remaja ini tak surut. Di balik kritik dan kecaman, mereka justru mendapat banyak dukungan dari teman-teman sebaya yang merasa lebih aman dan percaya diri setelah mendapatkan edukasi. Ini membuktikan bahwa ketika remaja diberi ruang dan kepercayaan, mereka bisa menjadi <i>agent of change</i> yang kuat dan penuh empati.
Di balik upaya mereka menyuarakan pentingnya edukasi kesehatan seksual dan reproduksi, Tenggara Youth Community justru menemukan kesempatan besar untuk berkembang. Tak hanya fokus pada kampanye di media sosial atau edukasi langsung ke sekolah-sekolah, tetapi juga berjuang keras untuk menjangkau para penyintas kekerasan seksual yang kerap tak punya ruang aman untuk bersuara. Mereka menyadari bahwa perjuangan ini butuh dukungan dan jaringan yang lebih luas, apalagi isu yang mereka usung masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat. Namun, semangat yang tak pernah padam akhirnya mempertemukan mereka dengan kesempatan yang membuka banyak pintu baru.
Astra, melalui program Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards, hadir sebagai bentuk apresiasi kepada anak-anak muda yang membuat perubahan nyata di masyarakat. Program ini memberikan penghargaan kepada individu maupun kelompok yang aktif di lima bidang: Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi. Melalui SATU Indonesia Awards, Astra tak hanya memberikan pengakuan, tetapi juga mendorong kolaborasi antara para penerima penghargaan dengan program unggulan Astra lainnya seperti Desa Sejahtera Astra dan Kampung Berseri Astra. Diharapkan, mereka bisa memberikan dampak positif yang lebih besar dan kontribusi yang berkelanjutan pada usaha-usaha pembangunan di daerahnya.
Tata, salah satu motor penggerak Tenggara Youth Community, sempat tidak menyangka komunitasnya akan menjadi salah satu penerima SATU Indonesia Awards 2020 di bidang kesehatan. Pasalnya, di tahun 2018 mereka sempat mencoba namun gagal lolos ke tingkat nasional. “Jadi kita coba dulu dengan tidak berkeyakinan apa-apa sih sebenarnya, karena kami hanya bilang yang penting orang-orang itu bisa kenal sama Tenggara, atau minimal tahu eksistensinya Tenggara itu di mana dan melakukan apa,” kenang Tata. Keputusan untuk mencoba kembali ternyata membawa hasil yang luar biasa. Bagi Tata, apresiasi ini bukan soal pengakuan semata, melainkan sebuah titik balik yang memperkuat keyakinan bahwa perjuangan mereka layak untuk dilanjutkan dan diperluas.
Sejak menerima penghargaan tersebut, dampak positif mulai terasa. Tenggara Youth Community semakin dikenal luas, dan isu kesehatan seksual remaja mulai mendapatkan ruang yang lebih layak untuk diperbincangkan di masyarakat. Jaringan yang didapat dari program SATU Indonesia Awards pun membuka peluang kerja sama dengan pihak-pihak baru yang mendukung visi komunitas. Tak hanya itu, Tata kini lebih leluasa mewujudkan impiannya membuka ruang aman bagi para penyintas untuk berbagi cerita dan melakukan proses penyembuhan. Pengalaman pahit yang pernah ia alami justru menjadi titik awal untuk membawa perubahan positif bagi banyak remaja lainnya, sebuah bukti nyata bahwa dari luka, bisa lahir kekuatan besar yang menyembuhkan.
Di tahun 2025, perjuangan Tata dan Tenggara Youth Community dalam mengedukasi remaja tentang kesehatan seksual dan reproduksi semakin menunjukkan dampak yang nyata. Sejak berdiri, komunitas ini telah berhasil menggandeng lebih dari 4.000 orang sebagai teman Tenggara, 30 komunitas, dan 35 relawan yang tersebar di berbagai kota. Program edukatif mereka pun terus berkembang, tidak hanya sebatas Bacarita Kespro yang jadi ciri khas awal, tetapi juga merambah ke berbagai bentuk kegiatan lain seperti Teman Bacarita—ruang diskusi online yang aman dari kekerasan seksual dan mitos kespro selama pandemi, Kespro Camp yang mengemas edukasi dalam suasana camping interaktif, hingga Blind Date, forum diskusi terbuka memperingati International Women’s Day untuk membongkar isu tabu di bawah tekanan budaya patriarki. Tidak hanya itu, mereka juga aktif melakukan riset—seperti penelitian pada tahun 2022 tentang persepsi orang tua dan anak terhadap pendidikan seksualitas—dan kampanye daring maupun luring demi menyebarkan informasi yang valid dan inklusif.
Tahun 2025 menjadi titik penting dalam perjalanan Tenggara Youth Community. Berbagai pencapaian menunjukkan bahwa gerakan yang dimulai dari keresahan remaja di Indonesia Timur ini telah meluas dan mendapat dukungan luas, termasuk dari penerimaan program SATU Indonesia Awards. Dengan lebih dari 4.000 teman Tenggara, 30 komunitas, dan 35 relawan yang aktif, program-program seperti Bacarita Kespro, Teman Bacarita, Kespro Camp, hingga Blind Date semakin memperkuat ekosistem edukasi yang ramah, inklusif, dan menyenangkan bagi remaja. Tidak hanya itu, keberangkatan ke ECOSOC Youth Forum 2025 di New York menjadi bukti bahwa suara dari wilayah 3T dapat berkontribusi dalam percakapan global tentang masa depan yang berkelanjutan.
Dukungan dari Astra melalui program SATU Indonesia Awards memberikan dorongan besar bagi Tenggara dalam memperluas dampak gerakannya. Kolaborasi yang terjalin, seperti dalam workshop PEKA bersama Biyung Indonesia dan AORTA Community Malang, berhasil menciptakan ruang aman bagi remaja perempuan untuk belajar dan berbagi. Kegiatan-kegiatan yang menyentuh aspek praktis, seperti menjahit pembalut kain, self-defense, yoga, dan edukasi siklus menstruasi, tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga memberdayakan remaja untuk lebih percaya diri menjaga kesehatan reproduksi mereka. Riset dan kampanye yang dilakukan secara konsisten juga memperkuat langkah advokasi berbasis data, sehingga semakin relevan dan berkelanjutan.
Perjalanan ini menegaskan bahwa edukasi kesehatan seksual dan reproduksi bukanlah isu sampingan, melainkan bagian penting dari pembangunan masa depan yang setara dan berdaya. Apa yang dilakukan oleh Tenggara Youth Community bersama para mitra dan relawan telah membuktikan bahwa gerakan dari daerah mampu memberi dampak luas. Bagi para remaja, khususnya di kawasan timur Indonesia, ini adalah ajakan untuk terus bersuara, bergerak, dan berani menyuarakan hal-hal yang penting bagi masa depan. Karena sejatinya, perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil yang tidak pernah berhenti.





Comments
Post a Comment